Jalur Khusus Sepeda Tidak Berguna Tanpa Budaya Bersepeda

Beberapa tahun belakangan ini, keberadaan jalur khusus sepeda sempat menjadi trending topik dimana-mana. Salah satu alasannya adalah karena jalur itu kerap diserobot oleh para pemotor dan pemobil. Hasilnya, pro dan kontra serta perdebatan kerap menjadi berita yang menghias halaman surat kabar dan membuat senang para wartawan karena mereka punya bahan berita.

Nah, bagaimana dengan di kota Anda? Adakah pemda disana “memanjakan” warganya dengan membuat jalur khusus sepeda ini?

Ada? bagus kalau begitu, tetapi sekaligus juga tidak bagus.

Mungkin banyak yang bingung kenapa bisa “tidak bagus”, tetapi sebagai gambaran di kota dimana saya tinggal Bogor, terdapat setidaknya satu jalur sepeda. Pendek saja yang berada di sekitar Kebun Raya Bogor.

Sempat menjadi bahan debat karena ada anak kecil yang menghadang para pemotor yang melwatinya. Tindakan berani mendirikan sesuatu pada haknya. Hal yang harus diakui.

Sayangnya, sebenarnya tindakan sang anak itu adalah sia-sia belaka.

Bukan hanya karena para pemotor itu terkenal nekad, bandel, dan egois. Yang ini sudah dipahami bersama secara nasional. Tetapi, lebih pada fakta bahwa di lapangan sebenarnya jalur khusus sepeda itu tidak berfungsi dengan baik.

Dalam hal ini , bukan salah pemotor. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jalur itu sangat jarang dipakai pesepeda. Kecuali di akhir pekan saat banyak orang bersepeda untuk mencari keringat, setiap harinya jalur itu minim sekali pemakai.

Situasi dan kondisi yang sama bisa dilihat juga dialami “sejawatnya” di beberapa kota yang lebih besar, seperti jalur khusus sepeda di Surabaya dan Jakarta.. Terlihat sekali bahwa pengguna jalur ini dalam aktivitas sehari-hari sangat minim. Tidak banyak

Sekali lagi, jangan salahkan pemotor dalam hal ini. Meski mereka tidak bisa lepas tangan dan tetap memberi pengaruh, tetapi ada hal yang lebih memberikan pengaruh terhadap sepinya peminat JKS ini.

Namanya “budaya bersepeda”.

Yap. Sudah sejak tahun 1980-1990-an, budaya bersepeda sepertinya sudah menghilang dari kehidupan masyarakat Indonesia dimana saja. Bahkan, di Yogya dan Solo yang dulunya terkenal sebagai kota sepeda sekalipun, kecenderungan bahwa orang mulai meninggalkan sepeda sebagai alat transportasi semakin tinggi.

Mereka beralih ke transportasi lain, yaitu sepeda motor. Yang satu ini terlihat dari jumlah total sepeda motor di Indonesia yang sampai tahun ini saja sudah melebihi 113 juta sepeda motor yang beroperasi di Indonesia.

Jadi, budaya bersepeda sudah hampir tidak ada.

Budaya dalam hal ini merujuk pada kebiasaan secara rutin menggunakan sepeda dalam aktivitas sehari-hari, seperti ke kantor, sekolah, pasar, dan yang lain. Bersepeda hanya sesekali dalam seminggu sebagai olahraga tidak membentuk budaya.

Jadi, sebenarnya sudah bisa diduga bahwa sebuah jalur khusus sepeda dimanapun, di Indonesia, akan sepi peminat. Tidak akan terpakai banyak. Semua itu karena sebenarnya pembuatannya tidak tepat sasaran juga.

Menyediakan fasilitas umum itu bagus dan diharapkan, tetapi harus juga dipastikan bahwa fasilitas itu memberikan manfaat dan dampak positif. Ibaratnya, memasang televisi umum di tengah hutan dimana penduduk sekitar tidak akan pernah mau masuk ke hutan itu.

Tidak ada gunanya.

Hampir bisa dipastikan bahwa tidak beberapa lama lagi, jalur khusus sepeda akan tidak berguna. Secara de facto sebenarnya sudah tidak ada manfaatnya, tetapi secara de jure butuh peresmian dari pemda tentang pembatalan penyediaan jalur sepeda yang ada.

Pemda pasti berniat baik untuk memberikan fasilitas dan akomodai bagi warganya. Cuma, mungkin mereka harus lebih kreatif dalam hal ini. Sebelum membuat jalur khusus sepeda, mereka seharusnya membiasakan dan “memaksa” warganya dulu untuk mau menggunakan sepeda saat beraktivitas.

Mungkin mereka bisa menelurkan peraturan wajib bersepeda pada satu hari setiap minggunya. Tidak beda dengan kebijakan Rebo Nyunda di kalangan PNS Bogor yang harus berpakaian adat setiap hari Rabu. Mau tidak mau kalau ada aturan seperti ini orang akan terpaksa melakukannya.

Tidak beda dengan jalur sepeda juga.

Kalau tidak, ya jangan pernah berharap bahwa ada orang mau bersepeda setiap hari. Situasi sudah berbeda karena sepeda motor menawarkan banyak keunggulan dibandingkan bersepeda, seperti hemat tenaga, lebih cepat, dan banyak hal lain yang dibutuhkan masyarakat modern sekarang.

Atau, kalau mau lebih memberi manfaat. Ubah saja jalur khusus sepeda menjadi jalur khusus sepeda motor. Sama-sama JKS, Setidaknya hal itu akan mencegah para pemotor selap selip di jalan raya yang justru rentan menyebabkan kemacetan.

Daripada tersia-sia kan?

Bagaimana menurut Anda?