Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan ?

Belakangan ini istilah Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan banyak sekali didengungkan oleh banyak pihak. Pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup, para pemerhati lingungan, dan media tidak henti terus menyebarkan mengenai pentingnya untuk mengadopsi gaya hidup seperti ini.

Tetapi, apa sih sebenarnya Green Lifestyle atau Gaya Hidup Eamah Lingkungan itu dan seperti apa sih perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari?

Mungkin, tulisan kecil ini bisa membantu Anda memahaminya.

Konsep dan Pengertian Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Pada dasarnya konsep dan pengertiannya tidaklah rumit.

Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan adalah sebuah gaya hidup yang selalu memasukkan unsur kepedulian terhadap kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Dengan kata lain, seseorang diharapkan untuk juga menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhannya sebagai manusia dan kelestarian alam.

Contoh Tindakan Yang Tidak Mencerminkan Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Bahasa teoritis mungkin tidak bisa menggambarkan secara lengkap bagaimana konsep tersebut bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi, sebenarnya tidak rumit dan sangat sederhana. Tidak perlu melakukan tindakan besar sebagai perwujudannya.

Sangat mudah, tetapi sayangnya dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku masyarakat Indonesia masih mencerminkan bahwa gaya hidup ini belum dipahami dan dianut.

Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa kebiasaan umum yang sering dilakukan sehari-hari.

Tidak mematikan lampu saat tidak dipakai

Mengapa hal seperti ini bisa mencerminkan kurangnya pemahaman tentang Gaya Hidup Ramah Lingkungan?

Mari kita coba telaah sedikit lebih dalam.

Penerangan yang dipergunakan di rumah membutuhkan aliran listrik untuk bisa menyala dan memberikan kenyamanan bagi manusia. Tanpa listrik, maka lampu tersebut tidak akan menyala dan manusia akan berada di dalam kegelapan.

Pernahkah kita menyadari bahwa ada ongkos yang ditanggung oleh lingkungan untuk memproduksi listrik?

Banyak dari pembangkit listrik di Indonesia dan negara lain di dunia dijalankan dengan menggunakan minyak bumi atau batubara. Untuk menghasilkan listrik, pabrik energi seperti ini akan melakukan pembakaran terhadap bahan bakar tersebut.

Efeknya, asap dan debu hasil pembakaran mengotori udara dan lingkungan sekitarnya. Itu adalah ongkos yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan manusia akan cahaya.

Dengan menyalakan lampu terus menerus padahal tidak terpakai, berarti pengorbanan lingkungan yang terpolusi seperti terbuang percuma. Meskpun sebagai pelanggan, kita membayar tetapi tetap saja polusi yang sudah terjadi tidak akan hilang.

Membuang Sampah Sembarangan

Memang praktis minum dari air mineral gelas atau botol. Apalagi ketika dalam perjalanan.

Sayangnya, masih banyak sekali orang Indonesia yang tega melemparkan begitu saja gelas atau botol bekasnya bukan pada tempatnya. Terkadang mudah sekali mereka melemparkannya ke aliran sungai atau digeletakkan dimana saja.

Pernahkah kita menyadari bahwa plastik adalah salah satu “musuh” lingkungan? Untuk menguraikannya secara alami, yang dilakukan oleh organisme di dalam tanah, membutuhkan waktu hingga puluhan tahun.

Belum lagi bahan hasil penguraian plastik dapat meracuni tanah karena terbentuk dari pengolahan bahan secara kimiawi. Bahan-bahan ini sangat mempengaruhi kesehatan tanah.

Satu-satunya cara mengatasi sampah plastik adalah dengan melakukan daur ulang atau memusnahkannya di tempat tertentu. Dengan begitu, maka segala efek negatif akibat sampah plastik bisa diminimalisir.

Itu hanya salah satu contoh dari mengapa membuang sampah secara sembarangan merupakan hal yang sama sekali tidak mencerminkan gaya hidup ramah lingkungan.

Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Green Lifestyle

Kegemaran Memakai Kantung Plastik

Ingat peraturan yang mengharuskan setiap toko mewajibkan pembeli membayar Rp. 200/buah jika ingin menggunakan kantung plastik? Pasti lah Anda ingat.

Peraturan itu kemudian diabaikan karena pemilik toko mendapatkan tekanan dari pembeli tentang penggunaan uang hasil penjualan kantung plastik ini.

Sebuah hal yang menunjukkan langkah mundur dan cermin betapa masyarakat Indonesia tidak memperhatikan inti dari kebijakan pemerintah tersebut.

Seperti disebutkan di atas, plastik merupakan “musuh” lingkungan karena sulit diuraikan dan kalaupun terurai akan mencemari tanah dan sekitarnya.

Penggunaan yang berlebihan hanya demi sekedar memuaskan kebutuhan akan segi kepraktisan sangat berbahaya bagi kondisi lingkungan di Indonesia. Apalagi bila dikombinasikan dengan betapa cerobohnya masyarakat Indonesia dalam menanganinya setelah dipergunakan.

Bukan sebuah pemandangan asing saluran air atau sungai tersumbat oleh tumpukan sampah plastik? Juga sudah umum sekali di berbagai tempat berserakan kantung-kantung plastik bekas tak terpakai?

Sikap kecil seperti ini sangat tidak bisa dikatakan sebagai perwujudan dari yang namanya green lifestyle.

Tiga contoh di atas adalah sebagian kecil tindakan umum yang jauh dari apa yang disebut dengan Gaya Hidup Ramah Lingkungan.

Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan Tidak Meniadakan Ancaman Pada Lingkungan

Banyak orang Indonesia sudah mulai mencoba mengubah gaya hidup mereka agar semakin peduli pada lingkungan. Syukur lah!

Meskipun demikian, perlu disadari bahwa gaya hidup ini pun tidak berarti 100% menghilangkan efek negatif pada lingkungan. Tetap akan ada efek negatif yang harus ditanggung oleh lingkungan oleh setiap tindakan kita, manusia.

Sebagai contoh, apabila plastik dibuang pada tempatnya dan kemudian dibuang atau dimusnahkan, tetap akan ada polusi saat melakukannya. Asap dari pabrik pemusnahan sampah atau kalau pada pengolahan dengan sistem sanitary landfill, tanah tetap akan terkontaminasi dan tercemar.

Begitu pula kalau kita sudah mematikan lampu yang tidak dipergunakan. Tetap saja kita akan menggunakannya saat hendak membaca atau menonton televisi. Pembangkit tenaga listrik akan tetap harus beroperasi dan tetap menimbulkan polusi.

Tetapi, apabila green lifestye tertanam dengan baik, resiko-resiko tersebut bisa dilokalisir dan diminimalkan. Pencemaran tidak lagi terjadi di setiap pelosok, tetapi hanya di tempat-tempat yang sudah ditetapkan.

Tetap ada ongkos yang dibayar oleh lingkungan untuk setiap pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Hanya besar atau kecilnya yang bisa ditentukan oleh kepedulian manusia.

Langkah Sederhana Nan Berat Menganut Green Lifestyle atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Yang paling utama dalam mencoba menerapkan green lifestyle tidak perlu dimulai dari hal-hal berat seperti ikut dalam organisasi peduli lingkungan. Justru hal terpenting dimulai dari tempat dimana kita tinggal, rumah.

Menggunakan piring melamin dan tidak menggunakan piring plastik, memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sisa minyak goreng ke saluran air, adalah sebuah langkah kecil dalam mewujudkan gaya hidup ramah lingkungan.

Hal-hal tersebut terlihat kecil, tetapi sudah sangat mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.

Dan, disitulah terletak masalah utamanya.

Masyarakat Indonesia cenderung menjadi sebuah masyarakat yang malas dan manja. Banyak dari kita yang tidak mau lagi memilah sampah organik dan non organik. Banyak yang terus berpikir bahwa repot untuk menyuguhkan minuman dalam gelas kaca seperti dulu dan lebih suka membagikan air mineral dalam kemasan plastik karena tidak merepotkan.

Padahal gaya hidup ramah lingkungan sangat membutuhkan pengorbanan dan kemauan untuk peduli. Sama halnya seperti kita peduli pada orangtua, saudara, teman, tetangga, maka dibutuhkan pengorbanan.

Bila kita menginginkan sebuah lingkungan hidup yang nyaman dan bersih, tentu saja kita perlu mengorbankan waktu kita sedikit. Tanpa itu maka tidak akan bisa terwujud.

Oleh karena itu penerapan konsep Green Lifestye atau Gaya Hidup Ramah Lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dengan mengubah kebiasaan dan pola pikir yang sekedar menekankan kepraktisan dan kemudahan.

Tidak sulit. Juga, tidak mudah. Perlu niat dan kuat untuk bisa membiasakan diri dengan gaya hidup ramah lingkungan ini. Tetapi, tanpa mencoba melakukannya, maka suatu waktu efek dari ketidakpedulian kita akan kembali dalam bentuk hukuman terhadap umat manusia sendiri.

Oleh karena itu, kawan, mari kita coba wujudkan dalam keseharian kita.